Skip to content
Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia – Jas merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Itu adalah pesan yang pernah disampaikan oleh Sang Proklamator, Bung Karno. Satu dari sekian banyak peristiwa sejarah yang sebaiknya Kamu ketahui dan tak melupakannya adalah sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Sejarah Proklamasi Kemerdakaan Indonesia Yang Harus Diketahui

Untuk menambah wawasan sejarah atau mungkin memancing ingatanmu, berikut ini Kami sajikan beberapa fakta sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia yang perlu Kamu ketahui.

1. Diawali dari Proses Penculikan

Tahukah Kamu, sebelum terlaksananya proklamasi, ada peristiwa penculikan terhadap Bung Karno.

Penculikan ini dilakukan oleh sekelompok pemuda yang menuntut agar proklamasi disegerakan sehingga mereka menculik Bung Karno sekaligus Hatta.

Penculikan kedua tokoh ke daerah Rengasdengklok tersebut bukan tanpa maksud. Para pemuda ingin mengamankan keselamatan kedua tokoh penting tersebut menjelang detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Langkah para pemuda tersebut menuai hasil, karena setelahnya Soekarno menetapkan waktu dan tempat untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

2. Perundingan Terjadi di Rumah Laksamana Maeda

Sebelum proklamasi dilangsungkan, para tokoh yang memiliki maksud sama berkumpul untuk merundingkan pelaksanaan proklamasi di rumah Laksamana Maeda, yang letaknya ada di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta pada 16 Agustus 1945.

Menariknya, pertemuan tersebut dilangsungkan di ruang makan. Saat itu, para tokoh membicarakan berbagai hal khususnya tentang bagaimana semestinya isi dari teks proklamasi yang akan dinyatakan.

Tokoh-tokoh yang berkumpul antara lain Ahmad Subardjo. Sukarni, Sudiro, B.M. Diah, serta tentu saja Soekarno dan Hatta. Mereka berunding hingga pukul 04.00 pagi.

Setelah selesai, teks yang disepakati kemudian diketik oleh Sayuti Malik.

3. Perdebatan Tempat Pembacaan Teks

Meskipun teks sudah disepakati, namun masih ada perdebatan dikalangan tokoh. Utamanya tentang dimana sebaiknya teks tersebut dibacakan?

Sukarni memiliki pendapat bahwa sebaiknya teks dibacakan di Lapangan Ikada. Namun, Soekarno punya pendapat yang berbeda dengan rekannya. Ia mengusulkan pembacaan dilakukan di rumah Soekarno sendiri, yakni di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56.

Diskusi tersebut akhirnya usai setelah diputuskan bahwa tempat yang paling tepat adalah di rumah Soekarno. Pertimbangan yang digunakan adalah faktor keamanan, sehingga prosesinya jauh dari ancaman gangguan yang merusak rencana.

Baca juga: Biografi Kartini

4. Pelaksanaan Pembacaan Teks Proklamasi

Setelah semua bersepakat soal tempat, akhirnya para tokoh dan saksi-saksi dari rakyat Indonesia semuanya berkumpul di Rumah Bung Karno pada pukul 10 pagi.

Soekarno membacakan teks tersebut dengan melihat teks, lalu melanjutkannya dengan pidato singkat yang dilakukan tanpa membaca teks. Suasana berlangsung khidmat karena ini adalah momen yang dinanti-nanti.

5. Pengibaran Bendera Merah Putih

Acara belum berakhir setelah pembacaan, karena selanjutnya ada prosesi pengibaran bendera saat proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Dimulai dari seorang pemudi yang datang dari arah belakang dengan membawa bendera merah putih yang disimpan pada nampan. Lalu pengibaran dilakukan oleh salah seorang prajurit PETA kala itu yang bernama Latief Hendraningrat dengan dibantu Soehoed.

Sekedar informasi, bendera merah putih yang dikibarkan pada prosesi tersebut adalah hasil jahitan dari ibu proklamator, yakni Fatmawati. Ia menyiapkan bendera sejak beberapa hari sebelum hari-H.

Untuk kepentingan pusaka, bendera tersebut masih tersimpan di Museum Tugu yang hingga hari ini masih ada dan bisa dilihat oleh rakyat Indonesia.

Adapun pembentukan dan susunan pejabat kenegaraan dilakukan setelahnya, tidak langsung saat itu.

Nah, demikianlah beberapa fakta menarik tentang sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia yang mungkin saja Kamu lupa atau belum mengetahuinya. Mudah-mudahan Kita selalu bisa menjadi orang yang belajar dari sejarah untuk kehidupan yang lebih baik.